Monthly Archives: September 2015

Bagai si Timun Emas

“Jangan berani kau sentuh dia”, tiba-tiba suara itu mengagetkan keduanya. Gadis manis itu sudah ketakutan setengah mati menghadapi preman yang tak tau malu itu. Dengan sigap ia pun berdiri di belakang pemilik suara tadi. Sembari melihat mimik muka preman itu, dia memegang erat tangan si penyelamat jiwanya. Sejurus kemudian preman itu tak bisa berkutik dihadapan orang tadi. “Mengapa anda bisa kemari?”, nada kesopanan tiba-tiba muncul dari dirinya.”Kenapa kau menanyakan hal yang bodoh, jelas aku kesini karena dia keluargaku. Kau sendiri punya kepentingan apa?”. Sambil tetap hormat “Tidak…aku hanya lewat tadi dan tidak sengaja bertemu dengannya”.

Gadis itu tak tinggal diam “Bohong nek, dia memaksaku untuk ikut dengannya”.Dia panik tak bisa berucap apa-apa. Suasana hening tapi sangat mencekam. Semua beradu pandang seakan siap menerkam lawan mereka. Tak berapa lama si nenek bersuara kembali ” Edi, apa kau mau mengambilnya dariku? Apa kau mau membawanya pergi?”. “Tentu saja, sudah saatnya dia tahu kebenarannya”. Sang gadis hanya bisa diam memperhatikan percakapan mereka. Namun dalam keplanya berkecamuk segala pertanyaan yang ia ingin tahu jawabannya. Dia tak tahan dengan semua pertanyaan tadi, di memberanikan diri untuk bertanya “apa maksud preman itu nek?”. Sang nenek hanya bisa menghela nafas seraya berkata ” Dia adalah ayah kandungmu. Saat umurmu 1 tahun dia menitipkan mu padaku. Dia berjanji akan mengambil kau kembali saat dia telah sukses, tapi kenyataanya dia malah menjadi preman seperti ini. Tentu saja aku tak mau menyerahkanmu pada laki-laki seperti ini”. Lalu preman itu menimpali “Tapi aku perlu putri kembali padaku, bagaimanapun dia darah dagingku”. Sang nenek tau mau kalah “Jangan harap kau bisa mengambilnya, Rani cepat kau lari sekarang akan ku urus preman ini”. Gadis itu lari meninggalakan mereka berdua. Sambil menangis dia terus mengkhawatirkan keadaan sang nenek. Tiba-tiba ada lengan yang menarik dia kebelakang tembok. ” Hussh…diam, ini aku Fadli. Nenekmu sudah aman dari preman tadi”.

” Lho..kenapa bisa secepat itu”.

“Preman itu diringkus polisi saat kau lari tadi, dia terlibat kasus penggelapan dana. Saat dia akan menyakiti nenekmu polisi datang dan segera menyergapnya.”

“Lalu nenek?”

“Beliau baik-baik saja, hanya sedikit shock”.

Saat tiba di rumah sang nenek menceritakan detail peristiwa yang membingungkan ini “Dia memang ayahmu, aku memutuskan merawatmu saat dia menyerahkan mu padaku. Aku memang sedari dulu menginginkan seorang anak tapi buah cinta itu tak kunjung tiba sampai aku dan suamiku menua. Aku merawat mu dengan kasih sayang yang penuh layaknya anak sendiri. Tapi ketika janji ayahmu terngiang di telinga ini, aku takut jika ia akan mengambil mu kembali. Aku masih tak bisa mengikhlaskan itu semua”. Sambil sesenggukan nenek menceritakan semuanya. Rani pun memeluk sang nenek seraya berkata “Rani sayang nenek dan tak akan meninggalkan nenek. Meski ayahku kembali tapi nenek tetaplah orang yang paling Rani cintai.”

Jakarta dengan kemacetannya

Pesona Jakarta memanglah sangat dahsyat. Tak hayal jika arus urbanisasi selalu meningkat dari tahun ke tahun. Besarnya minat para pendatang untuk mengadu nasib di kota ini membuat jumlah penduduk tak sebanding dengan luas kota. Dari data tahun 2014 saja, tercatat 12,7 juta jiwa mendiami kota dan bisa dipastikan jumlah ini akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi di kota metropolitan ini.

Pencapaian jakarta akan sebutan kota metropolitan memanglah benar adanya. Bagaimana tidak,segala fasilitas mewah dan gedung-gedung pencakar langit semua terpampang jelas di sini. Geliat usaha disini bisa sangat menggiurkan dengan gaji yang ditawarkan melebihi UMK di daerah lain. Hal ini lah menjadi dasar para pendatang memburu kota satu ini. Selayaknya mencapai impian, namun berbagai masalah pun akan timbul kemudian. Salah satu masalah yang tak pernah rampung selesai sampai sekarang yaitu Kemacetan lalu lintas.

Ya, macet adalah satu kata yang bisa mendifinisikan wajah ibukota. Dari pagi buta hingga malam menjelang jalan-jalan utama di jakarta seakan tak pernah sepi dari antrian mobil pribadi, sepeda motor, metro mini dan sebaginya. Mereka selalu berebut jalan agar tak terlambat datang ke tempat kerja. Bahkan bunyi klakson selalu bersahut-sahutan layaknya burung bersiul. Entah mengapa semua keruwetan kota ini tak bisa sirna. Selalu dan selalu terjadi tiap hari. Berbagai hal sudah diupayakan untuk mengurai kemacetan ini. Namun hasil nyata tak kunjung di dapat.

Para warga jakarta sepertinya sudah lelah dengan semua ini, tapi apalah daya semua harus tetap dijalani demi sesuap nasi. Tiap jam sibuk mereka harus banyak bersabar menunggu giliran jalan atau jika mereka tak mau menunggu mereka biasanya mencari jalan alternatif yang jaraknya lebih jauh dari tempat tujuan. Tak sedikit dari jajaran kepolisian khususnya polantas mengerti akan kesulitan para warganya. Dengan membantu mengurai kemacetan, mereka memberi sedikit angin segar tiap harinya. Bersama dengan warga mereka bahu membahu mengatasi masalah ini. Tak urung tiap kali melintas di beberapa jalan protokol kita akan mendapati pak polisi mengatur laju kendaraan dan kita sangat mengapresiasi dengan kesigapan ini. Ini adalah sedikit pemecahan dari masalah ini namun kita berharap mendapatkan solusi-solusi lainnya agar Jakarta mampu terbebas dari macet.

Dari pembeberan di atas, ada beberapa hal yang bisa menjadi solusi. Diantaranya kita bisa meminimalisir penggunaan kendaraan pribadi saat jam sibuk. Jadi diperlukan transportasi umum yang nyaman dan aman. Untuk hal ini pemerintah & kepolisian harus bekerja sama dengn memberikan hak istimewa jalan bagi moda transportasi ini. Tanamkan sedini mungkin pada anak-anak untuk cinta bersepeda. Kepolisian bisa memberikan edukasi ini di tiap sekolah dengan menunjuk beberapa staff ikut berpartisipasi. Yang tak kalah pentingnya trek untuk pesepeda harus bener-bener dinetralisir dari gangguan moda transportasi lain. Hal lain yang bisa dilakukan bersama dengan masyarakat adalah mengikutsertakan siswa-siswa sekolah berpartisipasi dalam hal pengaturan lalu lintas. Hal ini sebagai pembelajaran pada siswa tersebut agar kelak lebih bijak dalam menggunakan jalan. Selain itu, bisa juga mengatur waktu traffic light dengan seksama. Di beberapa titik kemacetan, seperti persimpangan waktu tunggu dan jalan haruslah lebih cepat. Hal ini bisa menghindari dari penumpukan kendaraan di salah satu ruas jalan. Terkadang kemacetan juga terjadi karena sebab lain seperti jalan yang berlubang atau parkir yang tak terorganisir. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama antara masyarakat, aparat negara & pemerintah untuk mewujudkan solusi cerdas penyelesaian dari masalah ini.

Semoga Jakarta lekas bebas macet. Peran kepolisian memang sangat dibutuhkan dalam hal ini. Dengan beberapa alternatif yang saya sampaikan, saya berharap bisa membantu pemerintah dalam mencari solusi yang efisien. Hal yang lebih mendasar untuk menyelesaikan hal ini adalah merubah pola pikir masyarakat agar tidak terlalu konsumtif dengan membeli kendaraan pribadi bilamana itu tidak terlalu dibutuhkan.