Bagai si Timun Emas

“Jangan berani kau sentuh dia”, tiba-tiba suara itu mengagetkan keduanya. Gadis manis itu sudah ketakutan setengah mati menghadapi preman yang tak tau malu itu. Dengan sigap ia pun berdiri di belakang pemilik suara tadi. Sembari melihat mimik muka preman itu, dia memegang erat tangan si penyelamat jiwanya. Sejurus kemudian preman itu tak bisa berkutik dihadapan orang tadi. “Mengapa anda bisa kemari?”, nada kesopanan tiba-tiba muncul dari dirinya.”Kenapa kau menanyakan hal yang bodoh, jelas aku kesini karena dia keluargaku. Kau sendiri punya kepentingan apa?”. Sambil tetap hormat “Tidak…aku hanya lewat tadi dan tidak sengaja bertemu dengannya”.

Gadis itu tak tinggal diam “Bohong nek, dia memaksaku untuk ikut dengannya”.Dia panik tak bisa berucap apa-apa. Suasana hening tapi sangat mencekam. Semua beradu pandang seakan siap menerkam lawan mereka. Tak berapa lama si nenek bersuara kembali ” Edi, apa kau mau mengambilnya dariku? Apa kau mau membawanya pergi?”. “Tentu saja, sudah saatnya dia tahu kebenarannya”. Sang gadis hanya bisa diam memperhatikan percakapan mereka. Namun dalam keplanya berkecamuk segala pertanyaan yang ia ingin tahu jawabannya. Dia tak tahan dengan semua pertanyaan tadi, di memberanikan diri untuk bertanya “apa maksud preman itu nek?”. Sang nenek hanya bisa menghela nafas seraya berkata ” Dia adalah ayah kandungmu. Saat umurmu 1 tahun dia menitipkan mu padaku. Dia berjanji akan mengambil kau kembali saat dia telah sukses, tapi kenyataanya dia malah menjadi preman seperti ini. Tentu saja aku tak mau menyerahkanmu pada laki-laki seperti ini”. Lalu preman itu menimpali “Tapi aku perlu putri kembali padaku, bagaimanapun dia darah dagingku”. Sang nenek tau mau kalah “Jangan harap kau bisa mengambilnya, Rani cepat kau lari sekarang akan ku urus preman ini”. Gadis itu lari meninggalakan mereka berdua. Sambil menangis dia terus mengkhawatirkan keadaan sang nenek. Tiba-tiba ada lengan yang menarik dia kebelakang tembok. ” Hussh…diam, ini aku Fadli. Nenekmu sudah aman dari preman tadi”.

” Lho..kenapa bisa secepat itu”.

“Preman itu diringkus polisi saat kau lari tadi, dia terlibat kasus penggelapan dana. Saat dia akan menyakiti nenekmu polisi datang dan segera menyergapnya.”

“Lalu nenek?”

“Beliau baik-baik saja, hanya sedikit shock”.

Saat tiba di rumah sang nenek menceritakan detail peristiwa yang membingungkan ini “Dia memang ayahmu, aku memutuskan merawatmu saat dia menyerahkan mu padaku. Aku memang sedari dulu menginginkan seorang anak tapi buah cinta itu tak kunjung tiba sampai aku dan suamiku menua. Aku merawat mu dengan kasih sayang yang penuh layaknya anak sendiri. Tapi ketika janji ayahmu terngiang di telinga ini, aku takut jika ia akan mengambil mu kembali. Aku masih tak bisa mengikhlaskan itu semua”. Sambil sesenggukan nenek menceritakan semuanya. Rani pun memeluk sang nenek seraya berkata “Rani sayang nenek dan tak akan meninggalkan nenek. Meski ayahku kembali tapi nenek tetaplah orang yang paling Rani cintai.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s