Author Archives: fitania90

Bagai si Timun Emas

“Jangan berani kau sentuh dia”, tiba-tiba suara itu mengagetkan keduanya. Gadis manis itu sudah ketakutan setengah mati menghadapi preman yang tak tau malu itu. Dengan sigap ia pun berdiri di belakang pemilik suara tadi. Sembari melihat mimik muka preman itu, dia memegang erat tangan si penyelamat jiwanya. Sejurus kemudian preman itu tak bisa berkutik dihadapan orang tadi. “Mengapa anda bisa kemari?”, nada kesopanan tiba-tiba muncul dari dirinya.”Kenapa kau menanyakan hal yang bodoh, jelas aku kesini karena dia keluargaku. Kau sendiri punya kepentingan apa?”. Sambil tetap hormat “Tidak…aku hanya lewat tadi dan tidak sengaja bertemu dengannya”.

Gadis itu tak tinggal diam “Bohong nek, dia memaksaku untuk ikut dengannya”.Dia panik tak bisa berucap apa-apa. Suasana hening tapi sangat mencekam. Semua beradu pandang seakan siap menerkam lawan mereka. Tak berapa lama si nenek bersuara kembali ” Edi, apa kau mau mengambilnya dariku? Apa kau mau membawanya pergi?”. “Tentu saja, sudah saatnya dia tahu kebenarannya”. Sang gadis hanya bisa diam memperhatikan percakapan mereka. Namun dalam keplanya berkecamuk segala pertanyaan yang ia ingin tahu jawabannya. Dia tak tahan dengan semua pertanyaan tadi, di memberanikan diri untuk bertanya “apa maksud preman itu nek?”. Sang nenek hanya bisa menghela nafas seraya berkata ” Dia adalah ayah kandungmu. Saat umurmu 1 tahun dia menitipkan mu padaku. Dia berjanji akan mengambil kau kembali saat dia telah sukses, tapi kenyataanya dia malah menjadi preman seperti ini. Tentu saja aku tak mau menyerahkanmu pada laki-laki seperti ini”. Lalu preman itu menimpali “Tapi aku perlu putri kembali padaku, bagaimanapun dia darah dagingku”. Sang nenek tau mau kalah “Jangan harap kau bisa mengambilnya, Rani cepat kau lari sekarang akan ku urus preman ini”. Gadis itu lari meninggalakan mereka berdua. Sambil menangis dia terus mengkhawatirkan keadaan sang nenek. Tiba-tiba ada lengan yang menarik dia kebelakang tembok. ” Hussh…diam, ini aku Fadli. Nenekmu sudah aman dari preman tadi”.

” Lho..kenapa bisa secepat itu”.

“Preman itu diringkus polisi saat kau lari tadi, dia terlibat kasus penggelapan dana. Saat dia akan menyakiti nenekmu polisi datang dan segera menyergapnya.”

“Lalu nenek?”

“Beliau baik-baik saja, hanya sedikit shock”.

Saat tiba di rumah sang nenek menceritakan detail peristiwa yang membingungkan ini “Dia memang ayahmu, aku memutuskan merawatmu saat dia menyerahkan mu padaku. Aku memang sedari dulu menginginkan seorang anak tapi buah cinta itu tak kunjung tiba sampai aku dan suamiku menua. Aku merawat mu dengan kasih sayang yang penuh layaknya anak sendiri. Tapi ketika janji ayahmu terngiang di telinga ini, aku takut jika ia akan mengambil mu kembali. Aku masih tak bisa mengikhlaskan itu semua”. Sambil sesenggukan nenek menceritakan semuanya. Rani pun memeluk sang nenek seraya berkata “Rani sayang nenek dan tak akan meninggalkan nenek. Meski ayahku kembali tapi nenek tetaplah orang yang paling Rani cintai.”

Jakarta dengan kemacetannya

Pesona Jakarta memanglah sangat dahsyat. Tak hayal jika arus urbanisasi selalu meningkat dari tahun ke tahun. Besarnya minat para pendatang untuk mengadu nasib di kota ini membuat jumlah penduduk tak sebanding dengan luas kota. Dari data tahun 2014 saja, tercatat 12,7 juta jiwa mendiami kota dan bisa dipastikan jumlah ini akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi di kota metropolitan ini.

Pencapaian jakarta akan sebutan kota metropolitan memanglah benar adanya. Bagaimana tidak,segala fasilitas mewah dan gedung-gedung pencakar langit semua terpampang jelas di sini. Geliat usaha disini bisa sangat menggiurkan dengan gaji yang ditawarkan melebihi UMK di daerah lain. Hal ini lah menjadi dasar para pendatang memburu kota satu ini. Selayaknya mencapai impian, namun berbagai masalah pun akan timbul kemudian. Salah satu masalah yang tak pernah rampung selesai sampai sekarang yaitu Kemacetan lalu lintas.

Ya, macet adalah satu kata yang bisa mendifinisikan wajah ibukota. Dari pagi buta hingga malam menjelang jalan-jalan utama di jakarta seakan tak pernah sepi dari antrian mobil pribadi, sepeda motor, metro mini dan sebaginya. Mereka selalu berebut jalan agar tak terlambat datang ke tempat kerja. Bahkan bunyi klakson selalu bersahut-sahutan layaknya burung bersiul. Entah mengapa semua keruwetan kota ini tak bisa sirna. Selalu dan selalu terjadi tiap hari. Berbagai hal sudah diupayakan untuk mengurai kemacetan ini. Namun hasil nyata tak kunjung di dapat.

Para warga jakarta sepertinya sudah lelah dengan semua ini, tapi apalah daya semua harus tetap dijalani demi sesuap nasi. Tiap jam sibuk mereka harus banyak bersabar menunggu giliran jalan atau jika mereka tak mau menunggu mereka biasanya mencari jalan alternatif yang jaraknya lebih jauh dari tempat tujuan. Tak sedikit dari jajaran kepolisian khususnya polantas mengerti akan kesulitan para warganya. Dengan membantu mengurai kemacetan, mereka memberi sedikit angin segar tiap harinya. Bersama dengan warga mereka bahu membahu mengatasi masalah ini. Tak urung tiap kali melintas di beberapa jalan protokol kita akan mendapati pak polisi mengatur laju kendaraan dan kita sangat mengapresiasi dengan kesigapan ini. Ini adalah sedikit pemecahan dari masalah ini namun kita berharap mendapatkan solusi-solusi lainnya agar Jakarta mampu terbebas dari macet.

Dari pembeberan di atas, ada beberapa hal yang bisa menjadi solusi. Diantaranya kita bisa meminimalisir penggunaan kendaraan pribadi saat jam sibuk. Jadi diperlukan transportasi umum yang nyaman dan aman. Untuk hal ini pemerintah & kepolisian harus bekerja sama dengn memberikan hak istimewa jalan bagi moda transportasi ini. Tanamkan sedini mungkin pada anak-anak untuk cinta bersepeda. Kepolisian bisa memberikan edukasi ini di tiap sekolah dengan menunjuk beberapa staff ikut berpartisipasi. Yang tak kalah pentingnya trek untuk pesepeda harus bener-bener dinetralisir dari gangguan moda transportasi lain. Hal lain yang bisa dilakukan bersama dengan masyarakat adalah mengikutsertakan siswa-siswa sekolah berpartisipasi dalam hal pengaturan lalu lintas. Hal ini sebagai pembelajaran pada siswa tersebut agar kelak lebih bijak dalam menggunakan jalan. Selain itu, bisa juga mengatur waktu traffic light dengan seksama. Di beberapa titik kemacetan, seperti persimpangan waktu tunggu dan jalan haruslah lebih cepat. Hal ini bisa menghindari dari penumpukan kendaraan di salah satu ruas jalan. Terkadang kemacetan juga terjadi karena sebab lain seperti jalan yang berlubang atau parkir yang tak terorganisir. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama antara masyarakat, aparat negara & pemerintah untuk mewujudkan solusi cerdas penyelesaian dari masalah ini.

Semoga Jakarta lekas bebas macet. Peran kepolisian memang sangat dibutuhkan dalam hal ini. Dengan beberapa alternatif yang saya sampaikan, saya berharap bisa membantu pemerintah dalam mencari solusi yang efisien. Hal yang lebih mendasar untuk menyelesaikan hal ini adalah merubah pola pikir masyarakat agar tidak terlalu konsumtif dengan membeli kendaraan pribadi bilamana itu tidak terlalu dibutuhkan.

Kelinci Rendy

Suasana pagi tak seperti biasanya. Awan mendung menggelayut di kota kelahiranku. Entah mengapa aku tak punya selera untuk memandang mendung ini biasanya aku suka dengan langit mendung terlebih setelah kejadian 2 tahun lalu. Kejadian yang membuat ketertarikan ku ini menjadi sebuah ruang sisi kelam ku.

Kampus ku tersayang..

Aku memanggilnya si kelinci Rendy, cowok playboy yang aku kenal saat duduk di semester tiga jurusan manajemen. Meski playboy tapi dia seorang yang terkenal ramah dan super baik kecuali padaku bahkan dia masuk dalam jajaran 10 besar mahasiswa pintar. Namun sayang dia tidak bisa menjaga mulutnya satu hari saja untuk tak mengumbar janji *akhh aku ngira sih bualan manisnya. Selalu saja ada 1 atau 2 princess manis yang terperangkap di jaring-jaring mulut manisnya. “Ampun kau ini tak capek apa tiap hari seperti itu?” Tanya ku

Dengan gaya cueknya dia menjawab “Tentu tidak, yam….hahaha”, yam?? Iya..Ayam panggilannya padaku, dia mengira aku seperti ayam yang selalu bersemangat berkokok di pagi hari. Ayam yang selalu bisa bertelur dan yang selalu bisa dimakan dagingnya. Entah mengapa aku bisa diibaratkan ayam. Padahal aku tak berdaging seperti ayam atau berkokok sepanjang pagi tapi memang gelagat dirinya tak pernah mau meneriakkan nama ku secara benar. Pernah suatu waktu aku protes dengan julukan yang ia berikan padaku tapi aku malah mendapat julukan lain, katanya “Mending ayam daripada primata asing” . What?? primata asing “hemm…cowok ini bener-bener menjengkelkan sekali” batinku. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, di kelas pun dia tak mau menyebutku Siska dia hanya bisa mengingat nama Ayam jika berhadapan dengan wajahku. Alhasil teman sekelas pun kadang meneriaki ku dengan 1 kata ‘Ayam’.  Oh..my God dosa apa aku kali ini, mendapat sebutan Ayam dari penghuni kelas bahkan aku pun tak pernah de javu untuk menerima suasana seperti ini. Huaaa…rasanya ingin ku maki aja si kelinci itu, ingin ku jambak rambutnya dan ku coret-coret mukanya dengan Bold maker kalau perlu ku tulis di dahinya ‘Kelinci primitif’. Tapi apa yang aku rasakan tak bisa aku lakukan cuma bisa nahan di otak dan nyesek di hati. Menunggupun juga tak akan ada kesempatan hanya bisa berharap Dewi Fortuna muncul dan membuat rencana ku mulus dipraktekan.

Waktu terus bergulir namun rencana ku tetaplah menjadi rencana. Tak ada perubahan hanya iman ku yang kini semakin kuat menghadang kata-kata pedas dari seisi kelas. “Ok selow Siska, kau pasti bisa sabar karena sabar di sayang tuhan dan sabar banyak dikerubuti malaikat..hehehe” sambil menyemangati diri sendiri tanganku sibuk membolak-balikkan majalah make-up.

Kemudian….

“Wah, ternyata ayam bisa juga ya pake make-up” dengan gaya sok asyik fajar mengomel seperti biasa. “Hei, ayam sudahlah si Jantan gak suka betina yang menor…hahahaha” timpal galih. “Iya neh ayam kok pake bedak, apa gak malu tuh sama kukuruyukkk..” “Hahahahahahahaha” seketika tawa satu kelas meledak kemana-mana. Aku terpojok dan hanya bisa diam mendengar kata-kata sama setiap hari.Sementara itu, sih kelinci tengah asyik merajut kata-kata manis di depan laboratorium ekonomi. Bak pangeran negeri dongeng di bener-benar membuat tiap wanita seperti terkena pelet. Entah apa yang ia tempelkan di lidahnya, sehingga para princess itu selalu getol menerima semua yang ia katakan. Terkadang aku sempat berpikir apa dia memang menggunakan pelet? tapi dimana ia mendapatkan pelet itu? serasa apapun yang ia katakan begitu ngeh di telinga. Tapi tunggu dulu kalo di telinga ku gak menerima kata-kata seperti itu. Tidak sama sekali. Sudah cukup aku dikatakan ayam dan itu merupakan kata-kata yang paling memuakkan sepanjang aku hidup.

Hari ini tak banyak mata kuliah yang diajarkan jadi aku putuskan untuk pergi ke salon sebentar. Maklum laa, mahkotaku ini sudah sedikit kumal dan butuh sedikit perawatan tangan lincah mbak-mbak salon. Baru saja melangkahkan kaki ke pintu tiba-tiba tubuhku dihadang lengan yang berotot.“Stop ayam, aku ingin bicara” tegasnya. “Apa?” balasku. “Aku ada acara makam malam dengan si Gadis hari ini, menurutmu aku harus mengenakan kemeja atau kaos..hemm” gaya yang sok manis. “Aku kan ayam, mana bisa ayam ngasih tau mode” balasku sinis. “Ayolah, jangan cemberut gitu meski kau ayam tapi kau ayam paling jenius, sumpah!” rayunya. “Oh benarkah?” sambil ku kerutkan keningku. Dia masih saja tak melepas hadangannya dan terus berbicara untuk meyakinkanku agar memberi saran yang paling tokcer. Aku diam dan mendengar ceramah panjangnya dan diujung keputusanku.. “kemeja, sekarang minggir”. Syukur dia langsung melepaskan aku dan.. “Ayam, terima kasih..kau memang ayam yang terbaik” celetuknya.Masih saja memberikan kata-kata itu setelah aku membantunya benar-benar tak tau adat. Dalam hati ku berdoa semoga saja kencan kelinci itu gagal,gagal dan gagalllll.

Pukul 18.13 aku telah selesai membuat mahkota ku ini bersinar. Kukibas-kibaskan rambutku di depan kaca seraya membenarkan potongan poniku. Sontak bau harum masker melewati hidungku. Tak lama setelah itu aku berjalan ke arah kasir, sambil merogoh dompet aku menanyakan berapa jumlah yang harus aku bayar. Selesai nyalon kuputuskan untuk langsung pulang ke rumah sebab bila ku teruskan melancong ke tempat lain maka ibu ku tersayang bakal terus memborbardir aku dengan beribu-ribu SMS.

“Akh..leganya aku bisa terkapar di kasur ini..uhhh enaknya”. Sepulang tadi memang aku lebih memilih langsung menuju kamar. Ibu sendiri masih sibuk mempersiapkan makan malam. Tak lama setelah itu, ibu memanggilku untuk makan bersama. Banyak hidangan yang ibu sajikan pada malam ini mulai dari sup jamur, ayam goreng crispy sampai balado kentang..hemm sungguh membuat aku tak sabar menikmatinya. Usut punya usut ternyata ibu habis dapet reward dari bisnis penjualan susu pelangsing, oh..makanya acara makam malam ini terasa spesial. Disamping itu, ibu sengaja membuat acara malam ini lebih spesial untuk memberi selamat pada Ayah atas posisi baru di perusahaan. Akhirnya kami makan bersama dengan sedikit obrolan santai dan tak lupa di akhir acara aku peluk ayah sebagai ucapan dariku.

Lepas dari pukul 22.00, mataku tak bisa terpejam. Ku mencoba menghitung domba tetap saja mata ini enggan tertutup. Ku coba membaca novel pemberian Lita sahabatku dan lagi-lagi usahaku gagal. Tak putus asa ku coba membenamkan kepala ku ke bantal namun secara mengejutkan aku teringat akan si kelinci. Meski begitu aku tak menampik ingatan akan dirinya. Serasa ada sesuatu yang ganjil yang bisa membuatku senyum-senyum sendiri layaknya orang gila. Bukan tanpa sebab, tapi akhir-akhir ini dia seperti bermain di dalam memori ku. Oh..benarkah aku telah termakan oleh rayuannya? Atau memang aku terpanah oleh bidik cintanya? Akh…tidak cukup siska kau harus tidur sekarang. Ada segudang hal yang harus lebih kau pikirkan ketimbang cowok playboy seperti dia, ocehku sendiri. Meski aku berusaha untuk melupakan hal ini tapi hatiku bersikeras untuk mengingatnya.

Tak terasa pagi datang, aku telah bersiap ngampus hari ini. Dengan setelan kemeja kotak-kotak dan sepatu cat putih kesayanganku, aku pun pamit dengan membawa sepotong roti selai nanas. Setibanya di kampus aku tak langsung ke kelas, kuinjakkan kaki ku dulu di taman depan. Sembari menikmati udara pagi yang sedikit mendung aku pun langsung melahap habis roti ku tadi. Di tengah-tengah perjalanan ku mengunyah roti itu, tiba-tiba saja fajar menghampiriku. “Sis, kau tidak apa-apa kan?”. Sedikit terkejut dengan pertanyaan yang sopan banget dan merdu di telinga aku pun membalasnya “Tumben banget panggil siska, aku baik kok emang kenapa?”. Dengan sedikit guratan kesedihan di raut wajahnya ia pun bergumam lagi “Sis, rendy kecelakaan pas nganter pulang Gadis. Mereka sekarang tak sadarkan diri di RS”. Seperti ada mercon di kepala ku, aku pun tak bisa berkata apa-apa. Langsung saja tubuh ini duduk & kaku sesaat. Menerima berita sehebat itu, rasanya hilang separuh jiwaku. Aku masih mencoba meyakinkan diriku dengan bertanya pada fajar. “Benarkah itu jar?”….

Sejam lalu aku masih duduk di taman dan sekarang aku telah tiba di RS tempat rendy & gadis di rawat. Suasana begitu dingin dan sepi. Meski banyak yang berlalu lalang di sekitar kamar rendy tapi  begitu kosong dalam diriku. Aku tak kuasa menahan air mata ini, sambil memegang tangannya ku katakan segala yang aku rasakan selama ini. Rasa jatuh cintta diam-diam yang hadir tanpa permisi dalam hidupku  serta dalam setiap keheningan malam selalu ada cinta dalam diam yang berusaha aku lupakan. Air mata ini terus mengalir seiring kata yang aku lontarkan, tapi rendy tak bergeming juga. Rendy sadarlah..

Sadarlah..

Buka matamu..

Kumohon